Sejarah Desa

Sejarah Pemerintahan Desa :

Pada zaman penjajahan Belanda Desa Ngimbang  terbagi dalam 2 Dusun yang terdiri dari Dusun Sidorejo dan Dusun Ngimbang. Desa  dipimpin oleh seorang Kepala desa,Dusun di pimpin oleh kepala dusun yang dibantu oleh Bayan, Petengan, Kamituwo dan Jogoboyo.

Seiring dengan  perkembangan zaman kedua dusun tersebut berubah menjadi satu desa yaitu desa Ngimbang  yang terdiri dari dua dusun antar lain Dusun sidorejo, Dusun Ngimbang. Sejak terbentuk Desa Ngimbang telah mengalami pergantian kepemimpinan (Kepala Desa)  sebagai berikut :

  • Tahun 1960 – 1968, Desa Ngimbang dipimpin oleh Sukardi
  • Tahun 1960 – 1968, Desa Ngimbang dipimpin oleh Sutriyono
  • Tahun 1968 – 1969, Desa Ngimbang dipimpin oleh Sutriyono
  • Tahun 1969 – 1999, Desa Ngimbang dipimpin oleh Suyono
  • Tahun 1999 – 2007, Desa Ngimbang dipimpin oleh Suyono
  • Tahun 2007 – 2012, Desa Ngimbang dipimpin oleh Marcham
  • Tahun 2012- Sekarang, Desa di pimpin Oleh Yayik achmad wijaya

2.1.2 Demografi

41

 

Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2010, jumlah penduduk Desa Ngimbang adalah terdiri dari 1.121 KK, dengan jumlah total 4.031 jiwa, dengan rincian 2.015 laki-laki dan 2.016 perempuan sebagaimana tertera dalam Tabel 1.

Tabel 1

Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia

 

No

Usia

Laki-laki

perempuan

Jumlah

Prosentase

1

0 – 5

 

 

230 orang

5,70%

2

6 – 10

 

 

415

orang

10,29%

3

11 – 15

 

 

478 orang

11,85%

4

16 – 20

 

 

336 orang

8,33%

5

21 – 25

 

 

 

360 orang

8,93%

6

26 -30

 

 

 

402 orang

9,97%

7

31 – 35

 

 

499 orang

12,37%

8

36 – 40

 

 

276 orang

6,84%

9

41 – 45

 

 

299 orang

7,41%

10

46 – 50

 

 

236 orang

5,85%

11

51 – 55

 

 

215

orang

5,33%

12

56 – 60

 

 

170

orang

4,21%

13

>60

 

 

 

115

orang

2,85%

Jumlah Total

 

 

4031 orang

100 %

   Dari data di atas nampak bahwa penduduk usia produktif pada usia 20-49 tahun Desa Ngimbang sekitar 2.571 atau hampir 45,54 %. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM.

Dari jumlah 1.121 KK di atas, sejumlah 530 KK tercatat sebagai Pra Sejahtera; 461 KK tercatat Keluarga Sejahtera I; 35 KK  tercatat Keluarga Sejahtera II; 83 KK tercatat Keluarga Sejahtera III; 12 KK sebagai sejahtera III plus. Jika KK golongan Pra-sejahtera dan KK golongan I digolongkan sebagai KK golongan miskin, maka lebih 50 % KK Desa Ngimbang adalah keluarga miskin..

Secara Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang yaitu sekitar  78 m di atas permukaan air laut, terletak di Kecamatan Palang  Kabupaten Tuban memiliki luas administrasi 586.970 Ha,

Secara administratif, Desa Ngimbang terletak di wilayah Kecamatan palang Kabupaten Tuban dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga.

Di sebelah Utara berbatasan dengan desa Pucangan

Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tunah

Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Gesing

Di sisi timur berbatasan dengan Wangun

Jarak tempuh Desa. Ngimbang ke ibu kota kecamatan adalah 10 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 20  menit. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten adalah 15 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 45 jam.

Pola pembangunan lahan di desa Ngimbang lebih didominasi oleh kegiatan pertanian pangan yaitu palawija ( padi, kedelai, jagung ) dengan penggunaan pengairan tadah hujan. Aktifitas mobilisasi di Desa Ngimbang cukup tinggi, khususnya mobilisasi angkutan hasil-hasil pertanian maupun sumber-sumber kegiatan ekonomi lainnya.  Selain itu juga didukung fasilitas pendidikan serta fasilitas Kesehatan berupa PUSKESMAS Pembantu yang sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Namun demikian masih banyak permasalahan yang akhirnya menimbulkan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, pengangguran dan kenakalan remaja.  Hal tersebut terjadi karena keberadaan potensi yang ada di desa  kurang ditunjang oleh infrastruktur yang memadai dan sumber daya manusia yang memenuhi, misalnya keberadaan lahan pertanian yang luas di Desa Ngimbang tidak bisa mengangkat derajat hidup petani karena produktifitas pertaniannya tidak maksimal bahkan relatif rendah.  Hal tersebut disebabkan karena sarana irigasi yang kurang memadai serta sumberdaya para petani baik yang berupa modal maupun pengetahuan tentang sistem pertanian modern yang relatif masih kurang.  Akibatnya banyak masyarakat petani yang taraf hidupnnya masih dibawah garis kemiskinan

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)