TINGGAL KENANGAN SENDANG DESA NGIMBANG

Ngimbang-palang.desa.idKenangan adalah hal yang selalu ada dalam kehidupan manusia. Tidak hanya dalam pikiran, kenangan juga dapat tersimpan dalam benda, tempat, dan sejarah. Salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan tentang sejarah kehidupan yang ada di desa Ngimbang, kecamatan Palang, kabupaten Tuban adalah Sendang Ngimbang.

Desa Ngimbang terletak kurang lebih 5km di selatan pantai utara. Meskipun terletak tidak terlalu jauh dari pantai, desa tersebut justru dikelilingi oleh bukit, hutan, dan lahan pertanian yang begitu luas. Saat melewati jalan utama menuju desa tersebut, tidak akan terlihat satupun pemukiman warga karena kanan kiri jalan yang ada hanya persawahan dan dua waduk besar. Kurang dari setengah kilo meter dari gapura desa, akan baru ditemui pemukiman warga. Selain para ketika memasuki desa tersebut akan disambut dengan suasana persawahan di bagian barat dan utara, di timur desa ini juga terdapat hutan yang lebat hingga berhektar-hektar. Di barat desa, terdapat satu bukit yang diberi nama “Gunung Dingklek” (gunung yang berarti gunung dan dingklek yang berarti bangku). Penamaan gunung tersebut seperti demikian karena bentuknya yang seperti bangku panjang. Di kaki bukit tersebut, terdapat sumber mata air yang disebut dengan sendang.

Pada awal desa ini dijadikan tempat pemukiman, di kaki bukit tersebut terdapat pohon Randu atau yang lebih dikenal masyarakat desa tersebut dengan nama Randu Alas. Pohon tersebut sangat besar, kira-kira berdiameter 3m lebih, bahkan ada yang mengatakan bahwa diametnya mencapai 5m. Bisa dibayangkan seberapa besar pohon tersebut dan seberapa lama ia tumbuh. Pohon tersebut yang menjadi pohon induk dari pohon-pohon yang lainnya, yang ukurannya dibawahnya. Pohon Randu tersebut begitu rindang, bahkan di bawah dan di atasnya dijadikan tempat berbagai jenis burung dan binatang untuk tinggal, salah satu burung langka yang tinggal di sana adalah burung Bangau Tontong (Leptoptilous Javanicus).

Dengan bentuknya yang besar, pohon Randu tersebut tentunya dapat menyimpan banyak air di bawahnya, ditambah lagi dengan adanya pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya. Maka dari itu, di sekitar pohon-pohon tersebut terdap banyak sumber mata air. Dulunya, dibawah pohon Randu tersebut terdapat sebuah tempat semacam danau namun ukurannya tidak luas. Di sana, binatang dan warga memanfaatkan airnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, masak, mencuci, dan lain-lain.

Dengan semakin, banyak pendatang yang menetap di desa Ngimbang, akhirnya danau kecil tersebut dijadikan sebagai sendang. Sendang tersebut ada dua tingkatan dengan masing-masing tingkatan terdiri dari dua bagian kotak sendang. Yang terletak di paling bawah bukit dari arah bawah pohon, terdapat satu sendang yang khusus untuk mencuci para warga desa. Di bagian atas atau yang lebih ke atas bukit terdapat satu sendang dengan dua bagian, bagian kanan diberi nama sendang lanang (laki-laki) dan sebelah kiri sendang wedok (perempuan). Sendang tersebut khusus digunakan untuk mandi oleh para warga namun, sesuai dengan namanya, perempuan mandi di sendang wedok dan laki-laki mandi di sendang lanang. Dan di bagian paling atas, terdapat satu sendang yang khusus digunakan untuk keperluan memasak dan lain-lain yang diambil untuk dibawa pulang.

Terdapat satu hal yang aneh di sendang tersebut. Semua sendang ayang ada, airnya selalu penuh dan terdapat ikan air tawar berbagai jenis yang tidak pernah dapat ditangkap dan tidak pernah melompat ke luar dari sendang meskipun airnya penuh sampai tumpah-tumpah. Warga desa mengaggap ikan tersebut adalah ikan-ikan penunggu sendang. Kepercayaan tersebut di dasari dari kepercayaan warga pada masa tersebut yang masih belum lepas dari animisme dan dinamisme meskipun agama islam sudah mulai masuk dan dipercayain oleh sebagian besar warga. Di sekitar sendang, tepatnya di bawag-bawah pohon besar dan  termasuk pohon Randu, masih sering disajikan sesajen-sesajen yang dipersembahkan untuk penghuni tempat tersebut agar tetap terjaga hubungan baik dengan masyarakat desa. Kembali tentang ikan penghuni sendang, ikan tersebut juga tidak berasal dari warga yang menaruhnya namun, dikatakan bahwa ikan tersebut sudah sejak dulunya ada entah dari mana asalnya.

Sendang-sendang yang penuh dengan air dan dihiasi oleh ikan-ikan serta diteduhkan dengan pohon-pohon yang rindang seperti pohon Randu Alas tersebut, kini tinggal sebuah kenangan yang tersimpan dalam sejarah desa Ngimbang. Bangunan sendang tersebut sekarang ini tinggal satu, yaitu dibagian paling atas yang terdiri dari dua bagian dan keduanya telah kering tak berisi air apalagi ikan-ikan yang menghuninya. Pada sekitar awal tahun 70-an sendang di bagian bawah terpaksa ditutup karena pemilik tanah menghibahkan tanahnya untuk dijadikan tempat pembangunan masjid desa. Kemudian, disusul dengan penebangan pohon induk Randu Alas. Penebangan pohon tersebut ditujukan untuk perluasan lahan guna membangun sekolah desa. Setelah pohon tersebut ditebang, sumber mata air berkurang. Ketika musim kemarau, sendang lanang dan wedok yang letaknya di tengah tersebut, airnya akan surut dan tidak lagi penuh. Semakin lama semakin sedikit airnya karena pohon-pohon besar di sekitarnya semakin banyak ditebang dan akhirnya sendang tersebut ditutup karena tidak lagi ada airnya dan dijadikan bagian dari lahan pasar. Sendang yang tersisa sekaran tinggal satu yaitu sendang atas dan tidak berfungsi lagi karena mata air di sana sudah tidak ada lagi. Warga desa sekarang ini, beralih ke air PAM yang diambilkan dari mata air yang ada di hutan.

Kerusakan termpat tersebut berasal dari ulah manusianya sendiri dan adanya kemajuan yang tidak dapat ditanggulangi denga hal yang lain. Kini sendang yang dulunya penuh dengan air yang asli berasal dari mata air pegunungan, yang banyak ikannya, dan rindang dengan pohon-pohon besar, tinggal sebuah kenangan.

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)