SEJARAH GUNUNG DINGKLIK NGIMBANG PALANG TUBAN

Potensi Penting Sumber Daya Alam yang Tercabik

Ngimbang-palang.desa.id – Gugusan bukit karst dari hamparan formasi Kendeng Utara berada di timur laut Kabupaten Tuban berjajar terdiri dari empat  bukit kapur, Gunung Galang, Ngimbang, Singget dan Pucangan masing-masing mempunyai hamparan (morfologi) dengan ukuran dan bentuk berbeda, namun sayang sebagian sudah mulai tercabik-cabik.
Kawasan karst Tuban tak habis kita telusuri untuk mengetahui potensi positif dari berbagai aspek, salah satunya kita mulai dari Gunung Galang sebuah gugusan bukit berketinggian 75 mdpl yang lebat ditumbuhi pohon jati dan beberapa vegetasi berbatang keras dikelilingi oleh lahan pertanian kering maupun pertanian lahan basah yang subur.
“Diantara keempat gugusan bukit karst di timur laut Gunung Galang merupakan yang paling utuh dari eksploitasi ekstraktif dibanding Gunung Ngimbang, Singget dan Gunung Pucangan di Wilayah Kecamatan Palang,“ kata Edy Toyibi, Direktur LSM Cagar mengawali pembicaraan saat menjelajah kawasan dengan sosialnews.com
Gunung Galang di Kecamatan Widang membujur dari timur ke barat sekitar 3 km dan lebar 1000 m tersusun oleh batu gamping berumur Pliosen batu gamping muda dan terus berkembang positif (ke atas) dengan sekelilingnya dikepung lapisan bawah oleh formasi lempung (Hanang Samodra 2001).
Edy menambahkan “Gunung Galang merupakan kawasan resapan air dengan luas 168 Ha dengan indikator sederhana di sekitarnya banyak ditemui mata air, salah satunya mata air Sigagak perkiraan debit air 150 liter/detik,“ kata lelaki yang aktif melindungi karst tersebut.
Edy juga menyayangkan di ujung timur puncak bukit Gunung Galang ada pembabatan vegetasi jati sehingga nampak terbuka.
“Dahulu di sini banyak dijumpai binatang-binatang hutan, seperti Kijang, Babi Hutan, Burung Merak, lo… mas, namun sekarang sudah jarang dijumpai lagi,“ kata Rojali (55 th) petani di sekitar Gunung Galang.
Dari cerita para tetua masyarakat yang masih berkembang sampai sekarang Gunung Galang mempunyai kekuatan magis dan sakral, “Memang kepercayaan masyarakat di kawasan karst pada aspek sakral dan magis dijumpai hampir pada seluruh nusantara,“ terang Edy enteng ketika sosialnews menyinggung cerita itu.
“Dalam ilmu karstologi kearifan lokal hal itu juga dipelajari untuk melihat kawasan karst secara utuh,“ papar Edy.
“Bahkan dari penelusuran dahulu kala sekitar Gunung Galang dan Ngimbang satu-satunya lokasi di Tuban yang dipercaya sebagai tempat jatuhnya meteor (benda dari angkasa), namun titik persisnya masih misteri,“ edy mengakhiri.




Gunung Ngimbang (doc: sosialnews.com/At)

TUBAN – Gunung Ngimbang, sebuah bukit karst menjulang berbentuk empat persegi panjang nampak dari jauh seperti meja persamuan raksasa, bentukan karst positif (ke atas) tersebut menyimpan banyak potensi ilmiah maupun sosial, namun semakin terancam gurita tambang.
Gunung Ngimbang dijadikan juga nama desa dan nama sumber mata air tepat dibawahnya, hingga kini. Keberadaanya berada di wilayah administrasi Kecamatan Palang Tuban paling selatan.
“Dari aspek ilmiah Gunung Ngimbang disusun oleh batu gamping dan berpotensi untuk meresapkan dan menyimpan air,” kata Edy Toyibi menjelaskan saat mendampingi sosialnews dilokasi.
Memang dari pantauan lapangan, di sebelah selatan Gunung Ngimbang tepatnya pada tepian Desa Ngimbang terdapat sumber mata air yang tidak kering pada musim kemarau. Pemanfaatan sumber air tersebut menjadi pasokan utama kebutuhan masyarakat desa.
“Tidak pernah habis mas, walau kemarau,“ ujar Mito (50 th).
“Sumber itu juga untuk kebutuhan bersuci di masjid desa ini yang tak jauh dari mata air,“ tambah Mito.
Dari penelusuran sosialnews saat menyisir jalan setapak menuju puncak, di ujung tebing sebelah barat banyak ditemui ornamen batuan akibat hasil pelarutan air hujan dan gamping, menghiasi tebing-tebing vertikal antara 7 sampai 10 m berupa canopy (flow stone) menggelayut.
Gunung Ngimbang merupakan daerah resapan air hujan, seperti ciri kawasan karst lain di dunia, “Gunung Ngimbang mempunyai luas kawasan resapan sampai 73 Ha, ini yang menyebabkan adanya mata air di bawahnya dari lorong air bawah permukaan yang mucul hasil infiltrasi air melalui porositas, permeabilitas (lobang-lobang intraganuler kecil) sebagai sifat batuan kapur,“ terang Edy.
“Itu teori umum dari geohidrologi karst,“ kata Edy Toyibi pemerhati kawasan karst di Indonesia asal Tuban.
Pada kesempatan lain salah seorang keturunan asli Desa Ngimbang yang tidak mau disebutkan identitasnya mengatakan, “Bagi orang yang pernah merasa terkabul apa yang dinginkanya setelah melakukan tirakatan di puncak Gunung Ngimbang, sering melakukan syukuran dengan memotong hewan ternak di puncak gunung,“ kata pria setengah baya tersebut.
Di ujung sebelah barat puncak Gunung Ngimbang terdapat tempat yang dipercaya sebagai petilasan orang bijak.
“Dari potensi ilmiah dan potensi sosial yang terdapat pada Gunung Ngimbang sepertinya tanda-tanda terancam gurita tambang kapur yang marak di sekitar kawasan tersebut semakin nyata , itu yang saya sangat khawatirkan,“ kata Edy mengakhiri.

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)